Santai, to the point dan nggak banyak teori. Begitu kira-kira kesan pertama jika berjumpa dengan salah satu pelatih Silat Khas Betawi BEKSI Kembang Janur, Pangkalan Jati ini.

Meski pengalaman hidupnya sangat berliku dan penuh dengan kisah hikmah. Namun, alumni JMQ Darussalam Gontor itu tidak ingin banyak sesumbar. Baginya, penilaian Allah lebih penting dari penilaian manusia.

“Kagak usah ditambah-tambahin yee jawabannya. Dah, yang gue tulis saja diramu, hehe,” jelasnya sambil tertawa ringan dengan logat Betawi yang khas, usai memberikan jawaban wawancara tertulis di Jakarta kepada Fabana.id.

Aqim, begitu ia akrab disapa melanjutkan. Dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, Aqim mengaku nilai-nilai dan falsafah Gontor yang terangkum dalam Motto Pondok dan Panca Jiwa Pondok sangat mencakup untuk menjadikan kita sebaik-baik manusia sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW.

Lalu, apa saja rutinitas yang Aqim kerjakan setelah 7 tahun menempa diri di ‘Kawah Candradimuko’ Pesantren Gontor?

Pria kelahiran 18 Nopember 1988 itu bercerita, setelah lulus pengabdian di Gontor 2, ia melanjutkan kuliah ke Univesitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung. Dan mendapat gelar sarjana pada bulan Nopember 2010.

Kemudian, pada bulan Februari 2011 ia melalang buana ke negeri serambi Makkah. Di salah satu wilayah bernama Subulussalam dan mengabdikan dirinya di salah satu pesantren di sana. Ia mengajar, mendidik dan mengasuh santri-santri di sana sampai Desember 2014.

Untuk saat ini, saya masih tetap aktif mengajar, merintis lembaga pendidikan dan nimbrung di salah satu Yayasan yang dikenal dengan Shakaro Foundation dan kebetulan di kelola oleh beberapa alumni Gontor juga,” sambung Aqim.

Bagi Aqim, dunia pendidikan sudah tidak asing lagi, sejak kecil ia sangat senang dengan suasana belajar bersama. Berbagi ilmu dengan dan kepada siapa saja. Dan hingga saat ini, tradisi itu pun terus ia rawat dan jaga.

“Bermula dari rasa senang saya dengan suasana belajar bersama. Dan dengan bekal ilmu yang pernah saya dapat walaupun hanya sebatas yang saya mampu, akhirnya saya benar-benar cinta dengan dunia pendidikan. Dan sepertinya memang saya ditakdirkan untuk terjun dalam dunia pendidikan, haha,” ucap pria berkaca mata ini.

Mengenal berbagai karakter seseorang, belajar banyak nilai-nilai kebaikan dan kemuliaan bahkan dari seorang anak yang usianya terpaut sangat jauh darinya. Belajar untuk menjadi problem solver dan banyak hal yang ia dapatkan dalam dunia pendidikan yang ditekuni selama ini.

Namun, sebagai pendidik yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang cukup berat untuk masa depan generasi bangsa. Aqim berpendapat, tantangan seorang pendidikan saat ini adalah bergesernya orientasi sebagian masyarakat terutama orang tua tentang tujuan pendidikan, pergaulan dan penyalahgunaan teknologi.

Untuk itu, sebagai pendidik yang memiliki prinsip problem solver. Perlu menghadapi tantangan tersebut dengan cara meluruskan pandangan masyarakat tentang apa sebenarnya tujuan dari pendidikan. Diantaranya dengan mengadakan kegiatan-kegiatan untuk dapat memberikan pencerahan kepada anak-anak tentang bergaul yang baik dan pintar dengan teknologi.

 

Sumber: Fabana.id