Sebuah pernikahan merupakan gerbang pertama yang sangat krusial dalam proses terciptanya fondasi peradaban manusia. Melalui pernikahan pula, setiap insan baik pria maupun wanita bertekad untuk membentuk tatanan keluarga yang sakinah.

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar Rum [30] : 21).

Keluarga Sakinah adalah buah manis yang hendak dipetik dari sebuah proses pernikahan. Sedangkan pernikahan itu sendiri, merupakan gabungan rasa kasih sayang (mawaddah) dan karunia Allah (rahmah) kepada setiap insan (lelaki dan wanita) dalam menjalankan tugasnya sebagai mandataris (KhalifatuAllah) di muka bumi

Ibarat tanaman padi yang diberikan persiapan (kondisi tanah dan pemilihan bibit) dan perawatan (pupuk, pengairan, dan perlindungan dari hama) dengan baik, maka akan menghasilkan kualitas padi yang baik.

Begitu pula dengan sebuah pernikahan yang akan dijalani oleh sepasang suami istri, juga harus diberikan sebuah persiapan berupa pembekalan (pra-nikah) dan perawatan (pasca-nikah) dengan baik agar dapat menghasilkan benih generasi masa depan peradaban manusia yang unggul. Yaitu anak-anak yang sehat, cerdas, dan kuat baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual.

Hanya saja, di era modern saat ini, baik yang terjadi di Indonesia maupun negara-negara lain di dunia telah terjadi begitu banyak fakta menyedihkan tentang pernikahan. Yaitu tingginya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, kenakalan remaja, pembunuhan antar anggota keluarga, perebutan harta dan seterusnya.

Apakah yang menyebabkan semua hal itu terjadi? Bagaimanakah cara mencegah hal-hal tersebut terjadi? Apakah perilaku negatif tersebut berhubungan dengan proses pernikahan? Jika tidak ada hubungannya, bagaimana peran keluarga dalam mencegah perilaku negatif tersebut? Bukankah keluarga adalah lingkup terkecil dari sebuah tata negara?

Saking pentinya keluarga, Allah sendiri yang menegaskan untuk menjaga diri kita sendiri dan keluarga dari siksa api neraka? Quu Anfusakum Wa Ahlikum Naaro

“Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” [At-Tahrim: 6]

Keluarga adalah fondasi pertama dalam membangun sebuah peradaban bangsa yang beradab. Keluarga adalah sekolah pertama yang mengajarkan apa saja kepada anak-anaknya. Apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialami anak-anak dalam keluarga, secara tidak langsung adalah ‘bekal’ ilmu bagi mereka untuk mendidik dan mengasuh keluarganya kelak.

Baik buruknya pendidikan dalam keluarga juga tidak lepas dari apa yang pernah didapatkan dari orang-orang sebelumnya. Tugas pemimpin dan anggota keluarga hari ini adalah al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidi ashlah”. Memelihara, menjaga dan meneruskan hal-hal baik dari para pendahulu adalah hal yang baik, dan mengambil inisiatif baru akan menjadi lebih baik.

Sebab, Tidak semua yang pernah kita dapatkan dari para pendahulu itu aplikatif dengan perkembangan zaman. Misalnya, membatasi peran isteri hanya urusan kasur, sumur dan dapur saja. Begitu juga dengan peran suami yang hanya fokus mencari nafkah keluarga tanpa peduli dengan perkembangan anak-anaknya.

SAMARA Academy, adalah sebuah inisiatif baru bagi para pemimpin dan anggota kelurga untuk mendalami berbagai ilmu dan pengetahuan seputar pernikahan dan kekeluargaan. Sebuah inisiatif untuk membekali diri membangun sebuah peradaban yang beradab melalui keluarga.

 Bangun Ketahanan Keluarga Bersama Samara Academy