Whiteboard dinding kamar saya, salah satu saksi bisu berdirinya Shakaro Foundation (SF). Tahun 2007, saya menulis target ditahun 2012. Antara lain: Ingin melanjutkan home industry orang tua yang sudah berdiri sejak 1970an. “Road to Shakaro Foundation 2012” Begitu kalimat di atas whiteboard yang kini sudah saya lepas dari dinding kamar. Why?
Saat itu, menjelang wisuda sarjana. Sedikit berputus asa, impian dan keinginan dimentahkan oleh orang tua. “Horong wayae lop, koe sinau bae sing sregep” (belum saatnya nak, kamu belajar dulu yang rajin). Saya sangat menghormati pendapat itu. Sebagai orang tua, mereka sangat menghendaki saya bisa husnul khotimah di perguruan tinggi. Yup. Saya sadari itu.
Maka, saya lepas whiteboard tersebut. Dan saya buang ke tempat sampah. Ah, rasanya impian saya ini terlalu muluk-muluk. Sejak itu tidak ada lagi impian berwirausaha, apalagi melanjutkan usaha orang tua yang sudah mengantarkan saya menjadi seorang sarjana.
Ragam aktifitas di kampus diikuti, berinteraksi dengan teman-teman pemuda-pemuda potensi, dari berbagai wilayah di Indonesia juga digeluti. Hingga kepikiran untuk membuat komunitas untuk anak-anak muda. Tepat di akhir tahun 2009, untuk menambah uang saku, terpikir menyambi kerja sampingan di Circle-K. Bersamaan dengan itu, terbentuklah komunitas Asosiasi LABASA.
Tiga tahun berturut, sejak 2010. Asosiasi LABASA mengadakan acara. Dari seminar umum yang melibatkan sumber daya lokal, hingga santunan untuk generasi muda masa depan. Sambutan masyarakat sangat beragam. Dari yang menyibir, sampai yang nyinyir. Macem-macem pokoknya. 😀 Sampai ada yang bilang, warna LABASA itu masih kental ‘kealian‘ (lah, emang saya ini apa yaa? hee). Dengan mencoba menjaga niat ikhlas, terus berusaha menjadi problem solver.

Di penghujung 2012, diadakan visioning internal komunitas yang terkesan masih ‘ndeso banget’. Bersama Abdillah Husny dan Najib Poa yang punya pengalaman dibidang organisasi sosial dan managemen perusahaan. Komunitas yang secara tertulis sudah beranggotakan lebih dari 50 orang ini, mengadakan penyamaan persepsi untuk menjadi perekat ummat, penebar rahmat bagi semesta alam, dan go nasional, bahkan international. heee (mimpi setinggi langit wajar kaan, :D)
And than, tersepakatilah program 3 tahunan, di bawah komando Muttaqie, dan Mutavien. Diantaranya: membuat rumah baca, mendirikan sanggar anak alam dan Islam, membuka peluang usaha, daan sampai berkeinginan membuat Rumah Produksi. Wuiiihh ;). Tapi, lagi-lagi impian itu masih terhenti di atas whiteboard. Berbulan-bulan, tidak ada eksekusi, satu persatu peserta ‘undur diri’. Dari yang kembali ke kampung halaman, sampai yang berumah tangga. Ah, macem2 pokoknya. 😀
Beberapa bulan kemudian, kembali bermanuver membuat LLC (LABASA Learning Center). Bersama teman-teman kampus Al Azhar. Ada Mega Satria dari Tuban, Muhamad Sudirman dari Sulawesi, Ikhwan Setiawan dari Cirebon. Setelah berjalan satu bulan, ikut bergabung juga Ardha dari Tuban, Arnas Avicenna dari Indramayu dan Dhzul Ihsan (Iker) dari Jakarta, dan Bruari Rahmadi dari Tangerang serta Muhammad Arwani dari Pati.
Konsepnya sederhana. menjadi tempat belajar non Formal yang dikemas secara integral dengan mengutamakan pendidikan dari pada pengajaran, serta terjangkau untuk semua kalangan, waktu yang fleksibel dan fun. Tapi sayang, program itu hanya berjalan selama 3 bulan. 😦 Semua kembali fakum. Ya meski sudah bisa punya inventaris handphone. Tapi melihat kondisi internal yang kurang kondusif, terpaksa diisritahatkan sebentar.
Mengikuti waktu yang terus berputar, kembali mencari solusi. Terpikir untuk memiliki ‘rumah’ yang bisa menaungi semua kegiatan dan impian-impian tersebut. Di awal tahun 2013, bertemu dengan Notaris. Dan Alhamdulillah, respon beliau sangat positif dengan program yang ditawarkan. Kesempatan diberikan dengan mendirikan Yayasan (Shakaro Foundation), sebagai ‘rumah’ dari impian-impian yang terpendam.

Setelah melalui proses yang cukup lama, ngurus izin di kelurahan, sampai menyamakan persepsi dengan semua tim yang ada. Puji syukur pada Allah, semuanya berjalan dengan lancar, walau pelan tapi tetap berusaha jalan kedepan. Bersama Sukma Wardani (yang pertama kali merintis berstatus calon istri. hehe), Dzulqarnain, Rini Febriani, dan Muhammad Saifi Rosyad dan Ikhwan Setiawan, terus berdiskusi panjang mengenai visi-misi SF. Pagi, siang, malam, terus berdialog tanpa henti. Meski sempat memanas, tapi it’s oke, semua berjalan lancar. (sst…yang ini dipoles dikit, biar lebih dramatis.. hehehe)
Mudah2an, dengan hadirnya SF ini, bisa menjadi ‘rumah’ kreasi pemuda/i Indonesia yang ingin berkontribusi bagi agama, bangsa dan negaranya. Tak hanya bermimpi dibalutan whiteboard, tapi terealisasikan dalam dunia nyata. Semangatnya siih, ‘nggak harus nunggu berlimpah materi untuk berbagi. Kapanpun bisa, bahkan saat muda kita juga bisa berbagai.’
So, akankah masih terbungkus whiteboard lagi? hee. Biarkan waktu yang menjawab yaa..:D
[Update] Akhir Desember 2015,

Tugas kita hanya berikhtiar semaksimal mungkin, selanjutnya menyerahkan segala hasilnya kepada Allah. Kira-kira begitu yang menjadi landasakan kami dalam menjalankan organisasi di SF. Sejak akhir Desember 2015 hingga sekarang, Alhamdulillah tulisan di atas whiteboard tersebut perlahan Allah tunjukan jalannya.
Subhanalladzi Asro Bi ‘Abdihi Lailan. Maha Suci Allah yang memperjalankan hambanya pada suatu malam. Malam itu simbol dari kegelapan, tanpa cahaya mata kita tidak dapat melihat suasana malam. Begitu juga dengan hari esok. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, meskipun seribu rencana telah disusun, jika Tuhan belum Kun Fayakun semuanya tidak akan terjadi.
Yesterday is history, tomorrow is mystery.



