Aktualisasi Diri Anak Muda Itu Bernama Labasa

Bermula dari sebuah diskusi singkat di sebuah kosan ukuran tiga kali tiga di Jakarta yang setiap minggu sekali rutin dilakukan. Sebagaimana wasiat seorang guru ngaji di kampung halaman waktu kecil. “Sebaik-baiknya ilmu adalah yang diamalkan, karena jika ilmu tidak dipraktekan bagaikan pohon yang tak berbuah.” Maka, tercetuslah sebuah ide untuk membagi oleh-oleh dari diskusi ke dalam sebuah forum yang lebih besar.

Berangkat dari rasa syukur dan peduli pada generasi masa depan di balut dengan semangat belajar tanpa henti dengan siapa saja, kapan saja, di mana saja. Keluarlah sebuah cletukan “labasa” yang dianggap mewakili kondisi saat itu.  Apa makna labasa? seorang teman bertanya. “ra popo (tidak apa-apa)” seorang yang lain menjawabnya.

“Tidak sempet kuliah tidak apa-apa, belum punya tempat yang permanen, juga rapopo, yang penting kita bisa terus belajar,” jawab seorang yang lainnya.

Karena punya semangat dan jiwa muda yang menggelora untuk terus belajar tanpa harus dibatasi hanya sampai 12 tahun saja. Maka, Labasa berarti: saatnya kita meluangkan waktu untuk membaca mumpung usia masih muda. Yang kemudian hari hingga saat ini dipersingkat menjadi ‘LuangkAn memBacA Saat mudA.’

Membaca secara luas dapat diartikan dengan belajar. Karena hanya dengan membaca kondisi sekitar, membaca alam, membaca sejarah dan membaca apa saja termasuk membaca buku dan kitab suci, adalah pintu utama menjadi manusia cerdas, bijaksana dan bahagia.

Tepat satu tahun sejak forum sederhana di gelar di Jakarta, pada tahun 2010 lewat Event Organizer yang diberi nama Labasa Indonesia, membuat event seminar perdana di desa Paninggaran Kab. Pekalongan Jawa Tengah.

Mengusung tema “menjadi pribadi muda yang kaya, takwa dan berguna” semua aktor di acara tersebut berasal dari masyarakat lokal. Baik itu narasumber, pembawa acara, moderator dan semua bagian-bagian terkecil (yang kadang diremehkan) dalam sebuah event organizer seperti juru parkir, security, penerima tamu hingga penjaga sound sistem adalah pemuda-pemudi setempat.

Para peserta dari lintas usia sedang menyimak acara seminar di desa Paninggaran Pekalongan Jawa Tengah

Jika biasanya untuk mengundang para tamu dan masyarakat secara luas perlu menghadirkan sosok ustad yang biasa nongol di televisi, ataupun host dan moderatorya yang sudah malang melintang di berbagai panggung. Namun di event tersebut tokoh masyarakat dan pemuda punya porsi yang sama. Selama diberi kesempatan untuk ‘manggung’ pasti bisa. Dan, nyatanya acara berjalan dengan lancar dan bahagia.

Salah satu pesan dalam seminar tersebut adalah: Jiwa muda tidak hanya berarti pada yang berusia muda, melainkan seseorang yang telah berusia tua sekalipun dikatakan memiliki jiwa muda jika mau membaca (belajar).

Karena belajar tidak kenal usia, profesi, golongan dan tempat. Dimanapun tempatnya tidak apa-apa, yang penting tetap membaca dan berjiwa muda.  Begitulah kiranya falsafah dari Labasa.

Lewat kegiatan ini, menjadi bagian dari kegiatan pengembangan sosial Shakaro Foundation. Untuk terus memupuk potensi masyarakat desa yang jarang diungkap dipublik untuk Indonesia Raya.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *