Shakaro.or.id- Ada banyak arti yang bisa dipakai untuk mengartikan kata Safaro, bisa jalan-jalan, traveling, tasmasya, atau plesiran. Dari sekian banyak serapan, kali ini kata ‘plesiran’ yang dipilih untuk menggambarkan kegiatan Safaro, Shakaro Foundation ini.

Pasalnya, Safaro kali ini seolah membawa peserta plesir ke tahun 1800an, di mana masa itu Jakarta belum bernama Jakarta. Dengan menelusuri jalan sepanjang 1,7 Km dari Masjid Cut Meutia hingga Masjid Al Makmur di Jalan Raden Saleh, berbagai kisah tersembunyi di balik bangunan yang berdiri kokoh hingga saat itu dapat diresapi.

Safaro kali ini dipandu oleh Sodara Yulian Makmun, seorang eksekutif muda dan Author sebuah catatan perjalanan di Kairo Mesir bersama Muhammad Irvan Wahid, dengan judul ‘Kota Berjuta Cerita’.

Sebagai bagian dari Sobat Budaya, Makmoen, begitu ia disapa, menjelaskan sepanjang perjalanan kisah dibalik tempat yang dikunjungi. Pukul 8.30 peserta berkumpul di dalam masjid Cut Meutia.

 

Yulian Ma’mun (kaos biru) pemandu Safaro. Jalan-jalan sambil beramal sosial bareng mitra SF

Sebanyak 10 peserta yang terdiri dari 6 pria dan 4 wanita mendengarkan dengan seksama kisah dibalik masjid yang posisi shofnya miring dari bentuk bangunan aslinya itu. NV Bouwploeg (Boplo), Van Heutsz dan Pahlawan Aceh Sekilas, jika berkunjung ke masjid ini tidak ada yang spesial, biasa-biasa saja.

Tapi jika dicermati dari bentuk bangunan dan lokasi sekitar masjid dan lokasi Menteng secara keseluruhan, ternyata menyimpan cerita panjang yang harus menjadi tutur tinular (buah mulut) tiap generasi.

Pada abad ke 18 daerah Menteng disebut dengan nama “Tanah Partikulir Mataram” dan kemudian dimiliki oleh orang Arab yang bernama Assan Nina Daut, lalu berpindah berkali-kali ke orang Belanda. Pada abad 19 kembali dimiliki oleh orang Arab.

Tahun 1908, perusahaan real estate NV Bouwploeg (masyarakat pribumi menyebutnya Boplo), membeli tanah yang ditaksir kurang lebih 62 ha. Kawasan ini dibangun dengan model Djawa dengan pekarangan dan kebun yang luas. Meniru kawasan Koningsplein (Lapangan Raja) di Weltevreden, sekarang kawasan Monas dan Istiqlal.

Tahun 1922 gedung ini dibangun sebagai kantor Boplo yang yang mengembangkan kawasan Menteng (Nieuw Gondangdia). Arsiteknya adalah PAJ Moojen. Bouwploeg bangkrut tahun 1925. Area kantor Bouwploeg ada di belakang taman Van Heutsz (Van Heutszplein). Ia adalah jenderal yang dianggap pahlawan Perang Aceh (1873-1914). Patung ini dihancurkan masyarakat setelah Indonesia Merdeka karena dianggap sebagai simbol kecongkakan Belanda.

Setelah itu, nama-nama jalan di sekitar sini pun dirubah menjadi nama pahlawan Aceh seperti Teuku Umar, Cik Di Tiro, Cut Nyak Dien dan Cut Mutia. Van Heutszplein diganti jadi Taman Cut Mutia, sedangkan Jalan Van Heutsz Boulevard jadi Jalan Teuku Umar. Beralih Menjadi Masjid Gedung Boplo bercirikan arsitektur Hindia Belanda atau Indische Bouwstijl yang berkembang pada awal abad 20.

P_20150906_095754Contoh bangunan lain dengan corak ini adalah Kuntsring Tugu yang berlokasi tidak jauh dari selatan Masjid Cut Muetia. Tuku Kunstring Paleis sendiri dibangun oleh Mooijen tahun 1913 sebagai galeri seni di Batavia. Dalam sejarahnya berganti-ganti fungsi menjadi kantor MIAI, Imigrasi Jakarta Pusat, Buddha Bar hingga jadi restoran yang dioperasikan oleh Hotel Tugu, Malang.

Karena perusahaan Boplo mengalami kebangkrutan, fungsi gedung beralih fungsi sebagai kantor dari berbagai instansi seperti Proviciale Waterstaat (perusahaan air minum), Angkatan Laut Jepang, Staatspoorwegen (Djawatan Kereta Api), MPRS, dan KUA. Baru mulai di tahun 1985 dialihfungsikan sebagai masjid, dan untuk menyesuaikan dengan arah kiblat, maka posisi mihrab diletakan miring.

Pengalihan fungsi sebagai masjid diprakarsai oleh Jenderal Abdul Haris Nasution, hingga secara resmi berstatus menjadi masjid tahun 1987. Di masjid ini pula laah, yang menjadi saksi bisu penandatanganan Petisi 50 yang diprakarsai AH Nasution untuk mengkritik pemerintahan Orde Baru tahun 1980.

Menjelang Pukul 10 pagi, peserta berjalan menelusuri Jalan Cikini Raya, beberapa lokasi seperti Kantor Pos Cikini (Tjikini Post Kantoor) menjadi destinasi kami. Dalam sejarahnya, dari sejak berdiri hingga sekarang, bangunan yang bernuansa Hindia Belanda itu berfungsi sama sebagai kantor pos. Sekitar jalan Cikini ada beberapa gedung yang legendaris seperti gedung (bekas) Toko Roti Tan Ek Tjoan.

Perusahaan roti yang berdiri sejak tahun 1921 itu, pertama kali buka di Bogor, kemudian pindah ke Cikini tahun 1956. Karena peraturan daerah yang melarang pabrik berada di tengah kota, maka saat kami mengunjungi lokasi ini hanya ada bekas peninggalannya saja.

P_20150906_104723Menurut informasi dari penunggu gedung tersebut, saat ini status gedung sudah dibeli oleh salah satu kontraktor ternama di Indonesia dan rencana akan dialihfungsikan sebagai apartemen. Sedangkan pabrik roti legendaris Tan Ek Tjoan sendiri saat ini pindah di Ciputat. Karena nama dan rasa yang sudah melekat di masyarakat, di depan toko tersebut dibuka penjualan roti yang di droop dari Ciputat.

Tempat penjualan menggunakan sepeda gerobak yang tempatnya berseberangan dengan toko Optik legendaris pula, yaitu Optik A Kasoem. Setelah itu, kami berkunjung ke Taman Ismail Marzuki. Lokasi yang berdiri di atas bekas Taman Raden Saleh yang difungsikan sebagai kebun binatang sebelum pindah ke Ragunan itu, di ambil dari nama seorang seniman bernama Ismail Marzuki yang meninggal tahun 1958 itu.

Tak jauh dari situ terdapat Reparasi Laba-laba yang berdiri tahun 1898 dengan nama “De Spin” yang artinya laba-laba dalam bahasa Belanda. Di toko tersebut dapat mereparasi segala benda terutama tas dan sepatu kulit.

Para peserta Safaro berpose di depan Masjid bersejarah Al Makmur Jakarta

Perjalanan berakhir di masjid Al Makmur, di sini Muhammad Irvan Wahid berbagi kisah seputar sejarah Jakarta yang sejak dahulu memang sudah dijadikan tempat bertemu berbagai etnis dan suku. Termasuk bangsa Arab, Cina dan sebagainya. Irvan juga membagi kisah tentang sosok Habib Cikini, Habib Kwitang hingga Urban Spiritualism.

 

Leave a Comment