Nyicil naskah Babad Negeri Tanduran, sejarah desa Paninggaran kab Pekalongan

“Ini sudah Haul yang ke 22 tahun, kalau ditanyakan kepada anak cucu kalian tentang siapa Mbah Wali Tanduran. Lalu mereka jawab, lamboh, mbahe sinten niku? Siapa yang bertanggung jawab?”

Masih terngiang dikepala sampai detik ini pesan Habib Luthfi Bin Yahya saat mengisi acara Haul Mbah Wali Tanduran ke 22 tahun 2007.

Beberapa bulan sebelum ngendikane Maulanan Habib Luthfi tersebut, beberapa anak muda (termasuk Syukron Ali dan Feri Hidayat didalamnya) di desa Paninggaran mengajukan diri kepada para tokoh desa untuk membukukan sejarah Mbah Wali Tanduran. Tidak banyak data dan fakta yang bisa diurai kecuali berdasarkan cerita turun temurun dari sesepuh desa Paninggaran.

Setelah menembung beberapa tokoh desa Paninggaran, saat itu soan kepada Pak Nur Affandi, termasuk mengambil lembaran naskah hasil penelitian dari Universitas Padjajaran yang disimpan oleh Bapak Slamet di dukuh Sabrang. Mewakili masyarakat desa Paninggaran, kami berangkat ke kediaman Habib Luthfi di Pekalongan waktu itu bertepatan acara Kanzun Shalawat pada hari Rabu malam.

Usai acara berlangsung, Habib Luthfi naik ke lantai dua, setelah itu tidak ada tanda-tanda Habib Luthfi turun ke bawah untuk menemui para tamu yang sudah menunggu hingga waktu subuh tiba. Kesempatan untuk bertatap muka dan menceritakan sangkan parannya Paninggaran kepada Habib Luthfi belum berhasil. Kami pulang dengan tangan hampa, tanpa data dan cerita baru yang bisa memperkaya wacana pembukuan sejarah Paninggaran.

Sejak kejadian tersebut pembukuan sejarah Paninggaran tetap jadi wacana. Tidak ada kelanjutan dan keseriusan untuk menggarap warisan penting bagi generasi masa depan Paninggaran.

Hingga pada bulan Juli 2018, Allah tunjukkan jalan untuk melanjutkan pembukuan Mbah Wali Tanduran melalui sebuah grup online yang diinisiasi oleh Abdillah Amin. Tokoh muda pegiat seni dan budaya Paninggaran yang aktif diberbagai pertemuan kebudayaan di berbagai wilayah di Nusantara.

Dalam pertemuan online tersebut para pegiat literasi dan kebudayaan desa Paninggaran mulai mengumpulkan ide dan gagasan membukukan sejarah desa Paninggaran. Adalah Bapak Edy Van Keling alias Drs  Edy Yuliantono,MM, dan Bapak Agus Sulistyo, S.Ked para pemerhati sejarah Pekalongan sekaligus penulis buku Babad Kabupaten Pekalongan 2017 yang mendukung proses pembukuan sejarah desa Paninggaran.

Dalam waktu yang sangat singkat, semua tim yang terlibat membagi tugas untuk menyelesaikan pembukuan yang sangat penting ini. Untuk menjadikan buku sejarah desa Paninggaran sebagai sebuah karya ilmiah dengan dukungan data dan fakta sebagaimana penulisan buku sejarah pada umumnya tidaklah mudah.

Salah satu cara untuk menggali peninggalan masa lalu tersebut didapat melalui cerita turun temurun dari para sesepuh desa yang masih hidup.

Bersambung
oleh: Shakaro Aly

Leave a Comment