Perjalanan ribuan mil diawali dengan ayunan langkah kaki pertama. Begitu petuah asal Cina, Lao Tzu berujar. Begitu pula dengan Pondok Modern Tazakka di kota Bandar Batang ini. Perjalanannya diniati, diawali dengan ayunan kaki pertama yang penuh dengan perjuangan.

Jauh sebelum revolusi industri 4.0 dicetuskan, para pencetus, pendiri Pondok Modern dari keluarga H. Anta Mashadi telah mencetuskan sebuah ide yang sangat revolusioner. Membangun sebuah peradaban baru yang saat itu hanya ditertawakan dam dianggap mustahil berdiri sebuah Pondok Modern di wilayah Bandar.

Saya pribadi sangat bersyukur, bisa merasakan proses perjalanan itu. Ikut serta menemani perjalanan Kyai Anang Rikza, putra pertama Mbah Kaji Anta keliling. Wa bil khusus di wilayah selatannya Pekalongan. Sekali dua kali ikut menemani beliau mengisi acara di Kalibening, kota Banjarnegara hingga didapuk sebagai tamu “spesial” di pengajian rutin beliau di kota Bandar.

Suatu momen istimewa yang tak pernah saya lupa, suatu malam di tengah pengajian di masjid Mujahidin dekat pasar di Kalibening Banjarnegara. Saya diberdirikan di tengah jamaah.

“Berbicara kader, saya juga punya satu kader di sini. Yang namanya Syukron Ali mana? Berdiri!” seperti sedang mengikuti laelatul hisab (malam evaluasi) kamis malam di Gontor. Saya pun berdiri dengan perasaan was was akan dihukum karena kesalahan saya melanggar disiplin pondok.

“Ini, ini orangnya! Lihat baik-baik, kalau dia bersikap tidak baik di sini, laporkan ke saya. Biar, biar dia malu sekalian,” dengan jaket kulit warna hitam yang saya pakai, wajah saya tundukkan, antara malu karena semua wajah tertuju pada diri saya yang tengah berdiri di antara jamaah di masjid. Tapi juga bangga karena dianggap sebagai kader.

Masih banyak lagi kesan dan kenangan yang tak terlupakan dalam proses perjuangan pendirian Pondok Modern Tazakka. Tapi saya bukan siapa-siapa. Hanya anak bakol tahu dari pelosok desa di Selatannya Pekalongan.

Qod Aflaha Man Tazakka, Beruntunglah bagi siapa saja yang suka membersihkan diri. Begitu Firman Allah berbunyi, tepatnya di QS Al A’ala:14. Tazakka, sebuah nama yang indah diambil dari perintah Allah. Dijadikan entitas perjuangan dalam menggapai ridho Allah.

Meletakkan fondasi keimanan, membekali generasi dengan pendidikan, mengasah bakat dan keterampilan yang adaptif dengan perubahan zaman, selalu berpegang teguh pada pijakan berdiri di atas dan untuk semua golongan.

Usianya boleh muda, masih sewindu, namun visinya melangkah jauh hingga usia seabad Indonesia. Dari sinilah, embrio peradaban baru itu disapih, diasuh dan dididik dengan kedisiplinan dan keteladanan.

Qod Aflaha Man Tazakka, siapa saja yang salah niatnya dengan sendirinya alam akan menyeleksi, yang jiwanya yatazakka akan nyambung dan terhubung dengan semua mahluk Tuhan yang satu frekuensi. Menyerap nilai-nilai dan visi perjuangan yang hanya disandarkan kepada Illahi Robbi.

Saya menyaksikan, saya merasakan perjuangan, pengorbanan para pencetus dan pendiri Tazakka. Saya yang bukan siapa-siapa ini berdoa agar Allah mudahkan segala ikhtiar, perjuangan dari siapa saja dari internal maupun ekternal, langsung maupun tidak langsung, yang menginvestasikan kebaikannya, agar Allah terus berkahi hidupnya, benefit yang diterima semakin bermanfaat dan mengalir kekal abadi. Amin.

Haflah Milad Sewindu Tazakka, terima kasih telah menjadi inspirasi generasi masa kini.

Leave a Comment