KAJEN – Muhammad Rusbiyana (26) sudah sedari kecil bergelut dengan sampah. Bahkan saat sekolah ia sudah mulai ‘mulung’ untuk membantu orang tua membayar sekolah atau sekadar untuk uang jajan. Pergulatannya dengan sampah pun menjadikan ia aktif di berbagai komunitas pecinta lingkungan. Terlebih ketika ia merantau ke Kota Pekalongan, untuk menimba ilmu di STMIK Widya Pratama. Ia sempat bergabung dengan komunitas dan sempat aktif dalam usaha normalisasi dan pembersihan Kali Loji.

Hingga suatu ketika, pemuda yang akrab disapa Biyan ini pulang ke kampung halamannya, di Desa Paninggaran Kecamatan Paninggaran. Namun kampung halamannya sudah jauh berubah dari apa yang membekas dalam memorinya. Limbah sampah plastik dan sampah lainnya sudah mengepung kali-kali di sekitar rumahnya. Rupanya Paninggaran pun sudah krisis sampah plastik.

Melihat kondisi tersebut ia mulai bergerak membersihkan sampah di sungai belakang rumahnya. Alhasil berkantong-kantong sampah berhasil ia kumpulkan.

“Sudah saya bersihkan sampah yang ada di belakang kali sana. Dapat berkarung-karung sampah. Tapi setelah tak pikir-pikir masak cuma digeletakkan saja di belakang rumah,” ujarnya saat diwawancarai Radar Pekalongan beberapa waktu lalu di gazebo belakang rumahnya.

Hingga akhirnya ide untuk memanfaatkan sampah itu datang. Ia mulai memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk belajar pemanfaatan sampah. Awalnya ia mencoba membuat bio gas dari sampah plastik tersebut. Berbekal informasi dari Youtube dan Google ia pun sempat berhasil mengubah sampah tersebut menjadi bio gas. Naasnya, setelah beberapa kali melalukan proses penyulingan, sempat terjadi ledakan yang cukup nesar.

“Sempat membuat bio gas Tapi pernah meledak itu masih ada bekasnya. Dan sempat menggegerkan warga juga. Karena kurang aman akhirnya saya memutuskan untuk berhenti membuat bio gas,” imbuh Biyan.

Hingga akhirnya ide membuat paving tersebut pun muncul. Kembali berbekal dari YouTube dan Google, pemuda yang kesehariannya memiliki usaha servis komputer ini pun kembali mencoba mengolah sampah plastiknya. Namun ia harus beberapa kali mencoba untuk mendapatkan hasil yang sesuai. Ia pun mulai mengotak-atik komposisi sampah untuk dibuat paving. Hingga akhirnya ia berhasil membuat paving seperti yang ditunjukkannya saat itu.

“Awalnya memang full dari sampah plastik. Namun setelah saya coba ternyata pavingnya tidak kuat. Sehingga akhirnya saya terpikirkan untuk menambah jenis sampah lainnya. Jadi 65 persen sampah plastik, kemudian sisanya campuran abu sekam, oli bekas dan diapers popok bayi,” imbuhnya.

Biyan menjelaskan, awalnya sampah tersebut dicacah sebelum nantinya dilumerkan bersama oli bekas. Setelah bahan-bahan tersebut mencair, nanntinya adonan sampah tersebut dicetak di cetakan paving. Setelah itu dilakukan press agar adonan padat sehingga struktur pavingnya lebih kuat. Nantinya dilakukan proses pendinginan paving dengan direndam di air selama beberapa jam.

Jika dilihat sepintas, paving tersebut bentuknya sama dengan paving block pada umunya. Hanya saja ada juga varian yang warnanya lebih hitam dari biasanya. Paving block buatan Biyan pun sudah teruji kekuatannya. Bahkan ia sendiri menjamin paving dari sampah ini lebih kuat dari yang ada di pasaran. Jika dilempar dengan kekuatan orang dewasa pun paving ini tidak pecah. Dan ketika dipukul menggunakan alat sejenis palu yang besar paving tersebut bahkan tidak retak

“Untuk satu meter pavingnya memang dijual lebih malah sekitar Rp150 Ribu per meter. Kalau paving biasa sekitar Rp110-120 Ribu per meter. Meski lebih mahal namun sudah bisa meminimalisir sekitar 10 kilogram sampah per satu meternya. Ini menjadi daya tarik bagi salah satu pembeli, dimana mereka ounya suatu kebanggaan karena telah berkontribusi mengurangi sampah plastik,” jelas Biyan.

Namun langkahnya ini bukan tanpa kendala. Bahkan Biyan sendiri sudah menjual mobilnya untuk memulai usaha pembuatan paving block dari sampah plastik ini. Meski sempat ditentang orang tuanya lantaran kegiatannya bertolak belakang dari gelarnya sebagai sarjana ilmu komputer, ia tetap semangat menggeluti kegiatan ini sebagai untuk misi lingkungan mengeliminasi sampah plastik yang ada di sekitarnya.

“Orang tua sempat melarang, karena pertama ini jauh dari kuliah saya. Dan juga saya menghabiskan cukup banyak dana sampai harus menjual mobil saya untuk membangun usaha ini. Namun usaha ini saya bangun tidak hanya untuk bisnis semata, namun saya sendiri punya misi untuk mengurangi sampah yang ada. Bisa dibayangkan berapa banyak sampah yang akan bisa dikurangi jika banyak paving yang dipesan,” ujarnya.

Untuk memperlancar bisnisnya ini Biyan bekerja sama dengan Shakaro Foundation. Usaha yang diberi nama CV Legacy Pratama ini pun mulai tumbuh. Sudah banyak perusahaan yang tertarik untuk membeli produknya. Bahkan ia beberapa hari ke depan masih disibukkan untuk presentasi produk di beberapa perusahaan dari berbagai kota. Seperti Jakarta, Bali dan lainnya.

“Saat ini memang kami belum produksi masal. Karena memang sistem kami menunggu order terlebih dahulu. Alhamdulillah setelah dibantu beberapa pihak, seperti Shakaro Foundation dan beberapa relasi perlahan sudah banyak perusahaan yang tertarik,” jelasnya.

Meski begitu, usaha Biyan sendiri masih terkendala perizinan. Ia berharap dari pemerintah bisa membantu dan memberikan solusi agar CVnya bisa mendapatkan legalitas. Sehingga ke depan semakin banyak sampah yang dapat dijadikan paving dan mengurangi tumpukan sampah yang ada di Paninggaran, tak terkecuali di Kabupaten Pekalongan.

“Kami harap pengurusan perizinannya dimudahkan. Kalau memang ada yang masih kurang, kami minta solusinya. Karena kalau nantinua beroperasi pasti banyak sampah yang akan digunakan. Bahkan bisa juga sampai mengambil sampah dari luar Paninggaran,” harapnya.

Tak hanya sekadar bisnis, ke depan ia juga berencana akan menyulap kebun belakang rumahnya sebagai tempat edukasi sampah. Bahkan selama ini Biyan juga sudah mendirikan bank sampah di desanya dan mengajarkan pentingnya edukasi sampah kepada anak-anak dan pelajar di Paninggaran dan sekitarnya

“Kalau sudah beroperasi nanti tentunya akam banyak sampah yang dibutuhkan. Sehingga perlu adanya upaya untuk penghimpunan sampah di sekitar sedari sekarang. Bahkan kegiatan bank sampah sudah ada dari beberapa tahun sebelumnya. Dan saya juga sudah sering menjadi pemateri edukasi sampah, untuk pelajar di sekitar Paninggaran,” pungkasnya.

Sementara itu, Kasi Pengendalian Kerusakan Lingkungan Dinas Perumahan, Permukiman dan Lingkungan Hidup (Dinperkim LH) Kabupaten Pekalongan Eva Retno Sari mengapresiasi langkah Biyan dalam mengolah limbah sampah plastik. Menurutnya inovasi ini menjadi sallah satu solusi pemecahan masalah sampah non organik.

Meski begitu ia berharap ke depan perizinan dari usaha yang dilakukan Biyan diharapkan dapat terselesaikan. Sehingga tak hanya bisa mengurangi sampah plastik, tapi juga meminimalisir limbah yang ada karena proses pembuatan paving nlock tersebut.

“Jika dilaksanakan secara benar maka produk ini bisa lebih dikembangkan lagi dan butuh uji coba secara resmi agar produk ini bisa di produksi skala besar Karena semakin banyak paving block sampah diproduksii maka semakin kecil angka sampah plastik yang dibuang ke TPA. Kami berusaha mendukungn dengan memberikan kemudahan dalam pengurusan izin usaha, dan pembinaan terhadap usaha,” tandasnya. (nov).

 

Sumber : RadarPekalongan

Leave a Comment