Dilarang Menulis Untuk Kedua Gelar Ini

Menulis, semua bisa menulis. Perkembangan dunia teknologi merangsang siapa saja untuk menulis. Walau sekadar ungkapan “Alhamdulillaah, dapet rizki lagi,” di status media sosialnya. Meski hanya empat kata, tapi sudah di tulis dan kau sudah bisa menulis dan jadi seorang penulis. Mudah kaan?

Abaikan soal tulis menulis, jangan direspon kalau ada yang mengajakmu menulis. Setelah kau pastikan bahwa dirimu adalah seorang anak Raja yang bisa dikenal dengan gelar Ningrat. Pastikan dahulu, apakah ayah, kakek, kakeknya kakek mu adalah seorang raja di masanya. Punya jalur nasab dalam sebuah kerajaan dan darahmu mengalir jelas sebagai darah turunan Raja.

Jika sudah kau yakinkan bahwa kau adalah trah dari seorang Raja di negeri ini, jangan menulis. Karena menulis bagi keturunan raja seperti kau, tidak lah disarankan.

Jangan menulis juga jika ayah, kakek atau ayah kakekmu adalah seorang Ulama besar. Kalau bingung merunut nasab keluarga yang sudah berjarak sekian jauh. Cukup pastikan saja, apakah ayah atau paman-paman mu adalah anggota, pengurus dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Jika sudah kau pastikan, kau adalah salah satu diantara ke duanya, atau bahkan kedua gelar itu ada pada keluarga mu. Maka, anjuran menulis sudah gugur dari mu. Kau punya kemampuan lain, selain menulis untuk berkontribusi pada urusan banyak hal di masyarakat.

Namun, jika kau bukanlah seorang anak raja, bukan keturunan ningrat, bukan juga cucu, cicitnya Ulama besar bahkan ayah, paman dan sepupu mu juga tidak ada dalam lingkaran MUI. Maka dengan sangat berat kau disarankan untuk menulis. Bukan sekadar menulis status di akun media sosial mu, tapi menulis untuk pencerahan, menulis untuk per-adab-an dan menulis untuk keabadian.

“Jika kau bukan anak seorang raja bukan pula anak seorang ulama besar. Maka, menulislah” [Imam Al Ghazali