Pendidikan tingkat tinggi adalah gerbang menuju kesuksesan, meskipun kesuksesan tidak harus lewat jalur pendidikan tinggi.

Begitu kira-kira kesimpulan yang bisa ditarik dari perjalanan sahabat saya, Namanya Idam (bukan nama asli), seorang pemuda yang cerdas dan punya banyak potensi yang saya kira ketika berkenalanan dengannya punya jalan masa depan yang cerah.

Tetapi, tidak bagi dirinya. Idam beranggapan untuk menuju sebuah kesuksesan, tangga satu-satunya adalah lewat jalur pendidikan tinggi. Ada sebuah kebanggaan dan rasa percaya diri jika sudah menyandang gelar sarjana. Minimal untuk melamar anak orang bisa punya gelar di belakang namanya.

Lebih jauh dari itu, jika harus melamar pekerjaan di sebuah perusahaan, jumlah pendapatan yang diterima lebih banyak dari yang berijazah sekolah menengah atas.

Namun, bayangan dan harapan itu sirna ditelan kenyataan. Idam adalah pemuda cerdas yang mendapatkan kesempatan kuliah jalur prestasi. Maksudnya kesempatan dia duduk di bangku kuliah merupakan hasil kerja kerasnya mendapatkan beasiswa dari kampus tempat ia menimba ilmu. Alasannya sangat-sangat klise, biaya hidup di Jakarta kurang mencukupi, mengingat pasokan logistic dari orang tua di kampung sudah tidak mungkin untuk dipasok seperti ekspetasinya.

Akhirnya, dengan segala pertimbangan Idam memutuskan untuk kerja part time di sebuah restoran sederhana. Menjadi waiters dan sesekali membantu teman memasak di dapur yang sering kali mengakibatkan rasa kantuk menyerang ketika waktu belajar tiba di kelas. Tugas utama sebagai mahasiswa mulai keteteran, antara ngantuk dan malas bercampur jadi satu mengalahkan semangat belajar yang mulai meredup.

Tidak ada lagi semangat bangun pagi seperti sedia kala, apalagi semangat membaca buku rujukan dan diskusi dengan mahasiswa lainnya tentang topic perkuliahan yang layak dibahas ulang. Paling banter, menghabiskan segelas kopi dan beberapa batang rokok di warung langganan dekat kampus sebagai bentuk pelarian agar tidak ditagih banyak tugas oleh dosen dan teman.

Singkat cerita, Idam memutuskan perkuliahnnya, jalur prestasi yang telah ia perjuangkan sebelumnya tidak lagi diteruskan. Dengan berat hati, Idam memutuskan secara sepihak alias mangkir dari perkuliahan dan tidak pernah ada kabar lagi untuk menyambung kuliah kembali.

Kisah Idam, mengingatkanku akan satu hal, bahwa antara ekspektasi dan realita sering kali berseberangan. Apa yang kita harapankan belum tentu jadi kenyataan, apa yang kita cita-citakan bisa jadi berubah di tengah jalan dengan berbagai faktor dan halangannya.

Tentang ekspektasi dan realita, sebuah ungkapan menarik yang sampai saat ini saya resapi betul makna tiap kata yang terkandung dalam kalimat tersebut. Sebuah kalimat yang bagi saya pribadi sangat aplikatif untuk siapa saja yang sedang dilanda sebuah kegalauan, kebingungan dan ketidakpastian.

Kalimat itu bersumber dari pelajar mahfuzot yang dipelajari di Pondok-pondok pesantren. Kalimat itu berbunyi “Ashlih Nafsaka Yashluh Laka An Nas” yang kurang lebih artinya adalah “Perbaikilah dirimu, maka akan baik semua manusia kepadamu,”

Apa korelasinya antara perbaikan diri dengan kebaikan manusia? Menurut saya pribadi hubungannya sangat erat sekali. Ibarat bola, semakin kencang bola yang ditendang ke tembok semakin cepat pula bola itu akan kembali ke diri kita. Begitu juga dengan diri kita, semakin cepat dan semakin rajin kita memperbaiki diri, maka semakin banyak pula respon positif yang akan datang menghampiri kita.

Seringkali kita menyalahkan orang lain saat mendapatkan kenyataan tidak sesuai dengan realita yang kita impikan. Padahal, bisa jadi setiap realita yang kita terima tidak lepas dari pantulan diri kita sendiri.

Termasuk kisah Idam yang mengejar gelar sarjana. Sekiranya ia tidak terlalu melihat ke atas akan lebih mudah baginya menerima takdir yang telah Tuhan gariskan. Sayangnya, Idam tetap kekeh dengan pendiriannya,  untuk menjadi sukses, menjadi orang kaya harus melewati gerbang title sebagai sarjana.

Sementara jumlah usianya terus bertambah, jatah hidup di dunia semakin berkurang. Tau-tau sudah tua, tau-tau belum bisa berbuat apa-apa, tau-tau teman di sekelilingnya sudah semakin tua dan makin mapan hidupnya. Tau-tau menyesal hidupnya.

“Antara ekspektasi dan realita sering kali berseberangan. Apa yang kita harapankan belum tentu jadi kenyataan, apa yang kita cita-citakan bisa jadi berubah di tengah jalan dengan berbagai faktor dan halangannya,”


Leave a Comment