Apapun cita-cita kita, tujuan utamanya adalah menjadi orang kaya. Ya, tepatnya supaya meraih kehidupan yang mapan dan bebas hambatan finansial. Apakah demikian?

Entah cita-cita kita nyambung dengan bidang ilmu yang dipelajari di kampus atau tidak itu soal lain. Asalkan ada peluang mendapat pendanaan dan meraih kehidupan yang lebih mapan dan membahagiakan, ambil saja jangan disiakan.

Kadang, dalam perenungan di tengah keramaian, semacam running teks berjalan pelan di otakku, misalnya tentang kebahagiaan. Banyak sekali quote-quote yang mengajak kita untuk bahagia, baik di timeline media sosial maupun dari ucapan public figure.

“Jangan lupa bahagia ya,” begitu kalimat itu digaungkan diberbagai kesempatan.

Kemudian running teks di otakku tertulis “bahagia itu relatif, menjadi kaya itu yang paling utama,”

Entah latarbelakang apa saja yang membawa tulisan itu datang menghampiri otakku. Seolah, makna sesungguhnya dari bahagia itu adalah menjadi manusia yang punya banyak harta, mau apa saja dengan uangnya bisa dikerjakan, takada lagi cerita tentang hambatan finansial. Seolah itulah makna bahagia yang sesungguhnya.

Bukankah mengejar ijazah di perguruan tinggi, bekerja totalitas di perusahaan, lembaga, institusi atau organisai kemudian mengikuti jenjang karir hingga posisi puncak juga pada akhirnya untuk mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi dari sebelumnya?

Punya usaha yang berjaya di satu lokasi, kemudian melihat ada peluang di lokasi berikutnya, meski harus mengeluarkan dana terlebih dahulu untuk membuka cabang usaha berikutnya, pada akhirnya bertujuan juga untuk meraup sebanyak-banyaknya laba, bukan?

Menjadi orang terkenal, punya banyak follower di akun media sosial, punya masa dan pengikut alias fans yang loyal, bukankah pada akhirnya menjadi asset tersendiri yang bisa dimonetize untuk meraup sebanyak-banyak dana?

Memang, dana bukan segala-galanya, tapi semua di dunia membutuhkan dana.Jangankan untuk makan, untuk buang hajat di tempat umum saja kita membutuhkan dana. Mau kuliah supaya dapat gelar sarjana, perlu dana. Ingin punya tempat tinggal permanen butuh dana. Buka usaha juga pasti butuh tambahan dana. Semuanya perlu pendanaan sampai orang yang meninggal pun tetap ada hitungan dananya.

Siapa yang tidak ingin memperoleh pendanaan? Setulus-tulusnya manusia mengorbankan tenaga, waktu dan pikirannya untuk orang lain, ia akan tetap berhitung berapa jumlah dana yangakan dikeluarkan dan potensi dana yang didapatkan.

Atas dasar itulah, jika ada pengeluaran untuk kegiatan sosial, santunan anak yatim dan dhuafa misalnya. Sebagian dari kita beranggapan sebagai bentuk pemborosan dan pengeluaran yang sia-sia saja. Sebab, dari dana yang dikeluarkan tidak dapat diukur potensi pendapatan yang akan diraih.

Memang, berbagi kepada anak yatim dan dhuafa misalnya ibarat kita membuang ludah sendiri yang tidak mungkin akan ditarik kembali. Lain halnya dengan pengeluaran dana un2Ytuk promosi produk atau layanan gratis dalam jangka waktu tertentu. Akan mudah dilihat dan dirasakan feedbacknya secara kasat mata.

Ibarat memancing, untuk mendapatkan ikan perlu ada umpannya, sementara pendanaan di ranah sosial andaikan ada umpan, maka cacingnya adalah ikannya itu sendiri.

“dana bukan segala-galanya, tapi semua di dunia membutuhkan dana. Jangankan untuk makan, untuk buang hajat di tempat umum saja kita membutuhkan dana”

Leave a Comment