Ada banyak momen istimewa yang terjadi pada bulan Ramadhan. Mulai dari perang badar, sebuah pertempuran 300 pasukan muslim mengalahkan 1000 pasukan kafir Quraisy yang terjadi pada 17 Ramadhan. hingga momen proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang terjadi pada 9 Ramadhan 1364 H.

 
Momen lain di bulan Ramadhan yang menjadi perhatian setiap umat muslim di dunia adalah momen Lailatul Qodar. Melalui Surat Al Qadr (97) kita bisa menyimak dengan gamblang bagaimana proses malam yang Allah sebut sebagai malam yang lebih baik dari 83 tahun atau 1000 bulan.

Malam itu, adalah malam di mana Allah menurunkan Al Quran ke bumi, para malaikat dan Ruh al qudus (malaikat Jibril) turut serta mengawal turunnya Al Quran dan mengatur semua urusan di bumi sehingga suasana malam itu penuh dengan kedamaian hingga terbitnya fajar.

Margasatwa tak berbunyi, burung menahan nafasnya, angin pun berhenti berhembus. Pohon-pohon tunduk pada waktu malam, ketika Al Quran turun ke bumi. Inilah malam, seribu bulan, ketika Allah menyeka air mata kita, ketika Allah menyeka dosa-dosa kita.

 
Begitu bait indah yang sangat menggetarkan sanubari, sang sastrawan Taufik Ismail mampu menggambarkan suasana malam itu yang merujuk pada pitutur nabi Muhammad SAW dan Al Quran. Kemudian dijadikan sebuah lagu oleh Bimbo dan didaur ulang kembali oleh Gigi Band.
Saya selalu berfikir, apakah Lailatul Qodar itu setiap tahun terus ada? Terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan. Menunggu kedatangannya dengan sistem kebut semalam, berharap melalui qiroatul quran, dzikir dan shalat tengah malam, benefit Lailatul Qodar seperti yang dibayangkan bisa saya peroleh.

Ataukah Lailatul Qodar itu hanya sebuah gambaran sekali dalam sejarah mengenai proses turunnya Al Quran? Sebab, saya pribadi terus terusik dengan ucapan Allah “Inna Anzalna hu, fi lailatil qodar. Sesungguhnya kami turunkan hu (Al Quran) pada malam qodr (lailatul qodar).

Apakah memang lailatul qodar itu benefit istimewa bagi umat nabi Muhammad yang Allah sediakan setiap datang bulan Ramadhan? Pada waktu yang Allah rahasiakan, dengan beberapa qlue yang nabi Muhammad SAW bocorkan kepada umatnya. Terutama tanggal ganjil di sepuluh akhir ramadhan? Siapa saja yang mampu mendapatkan, akan bahagia dan sejahtera hidupnya dunia dan akhirat.
Sebagai manusia yang terus mengejar kebahagiaan dan kemakmuran dalam hidup dunia dan akhirat. Setidaknya, bulan Ramadhan menjadi momen istimewa untuk mendekatkan diri pada Illahi Robbi.

Jangankan membaca, menyentuh Al Quran saja di bulan selain ramadhan serasa tidak cukup waktu. Apalagi sekadar dzikir dua menit dan bersujud lebih lama dihadapan Allah ta’ala.
Jadi, alangkah ruginya jika bulan istimewa Ramadhan masih saja belum bisa melungkan waktu untuk mendekatkan diri pada Allah.

Khususnya pada sepuluh akhir bulan Ramadhan, karena itu I’tikaf pada tanggal ganjil di beberapa masjid sangat ramai, berharap atmosfer dan suasana yang terbangun dalam masjid menjadi pemicu diri untuk tidak bosan mengejar lailatul qodar.

 
Bersamaan dengan itu, pikiran ini melayang semesta alam. Mencoba mentadabburi momen istimewa lailatul qodar. Jika lailatul qodar itu akan terus ada setiap bulan ramadhan, lalu apa maksud Allah dengan menurunkan Al Quran? Bukankan Al Quran yang kita baca setiap malam di bulan ramadhan itu sudah final, sebagaimana wasiat nabi Muhammad kepada umatnya untuk terus berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah?

Ataukah momen lailatul qodar itu akan terus ada sepanjang masa? kepada setiap umat manusia yang mampu menyerap informasi, terus menerus memahami setiap kata dan ucapan yang terkandung dalam Al Quran.

Kemudian mengamalkan sedikit demi sedikit dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga laku hidup manusia menjadi lebih baik dari hari kehari dan tak pernah hati dan pikirannya offline dengan Allah.

 

Allahu A’alam Bishowab

Leave a Comment