Totalitas Hidup di Dunia dan Akhirat

Dunia dan Akhirat (Sumber foto takrim-alquran.org)
Dunia dan Akhirat (Sumber foto takrim-alquran.org)

Coba perhatikan pesan Rosulullah Saw ini:

“Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati esok hari”

 

Pesan Rosul di atas bermuat dua unsur, pertama unsur duniawi dan kedua unsur ukhrowi. Unsur duniawi sangat bersifat materialistis dan unsur kedua sangat bersifat spiritualistis. Tersirat bahwa antara kebutuhan dunia dan akhirat keduanya harus terisi dengan seimbang.

Lantas manusia bertanya, mana yang harus saya prioritaskan? Ini bukan soal prioritas. Sebab, prioritas itu mengutamakan satu pekerjaan dan menyampingkan atau bahkan meninggalkan pekerjaan yang lainnya. Melainkan psoal totalitas. Totalitas untuk kebutuhan di dunia dan akhirat.

Dengan bekal kesempurnaan akal yang Allah anugerahkan kepada manusia, mereka punya kebebasan untuk memilih peran apa saja untuk menjalani kehidupan di dunia. Atas dasar konsekuensi pilihan itu, setiap hari, setiap bulan dan tahun, selalu disibukan dengan berbagai cara untuk memastikan dan memantaskan bahwa pilihan itu adalah pilihan terbaik dalam kehidupan.

Mulai dari cara untuk mengaktualisasi diri, cara untuk memperkenalkan identitas diri pada manusia lain, cara untuk memperbaiki kondisi ekonomi, cara untuk menjaga harga diri, hingga cara untuk memuaskan hasrat biologis.

Hingga pada puncaknya, berbagai cara yang ditempuh itu telah membawanya pada ujung kesuksesan bahkan menjadi sombong atas berbagai prestasi dan kejayaan yang diperoleh dengan segenap daya dan pikirannya.

Akibatnya, dunia dijadikannya sebagai tujuan, lalu perlahan ia melupakan pengabdiannya pada Tuhan. Lupa akan dirinya, lupa akan tujuan hidupnya, lupa akan Sang Pencipta yang selalu setia mendampangi di setiap detik kehidupannya.

Padahal, jauh sebelum kita ada di dunia ini, Allah sudah berpesan dan memberi peringatan kepasa manusia “Ini loh kehidupan akhirat lebih enak. Kok, lu malah senang-senang dan terlena sama dunia.”

Sebuah kisah seorang sahabat bernama Abdullah bin Mas’ud ra. Ketika itu dia membacakan surat Al A’la kepada sahabat yang lain dan beliau berhenti pada ayat yang berarti “sedangkan kamu (orang-orang kafir) lebih memilih kehidupan dunia” seraya berkata: “kita telah memprioritaskan hidup kita untuk dunia dan melupakan akherat.”

Beliau pun terdiam sejenak dan kembali berkata “kita telah memprioritaskan hidup kita untuk dia, keindahannya, wanita-wanitanya, makanan dan minuman yang ada di dalamnya, lalu kita melupakan kehidupan akhirat, kita memilih kehidupan dunia yang fana ini. Kita lupakan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi”

Dalam sebuah tulisan seorang penyair mengatakan “Sungguh, seseorang itu dapat hidup dengan baik hanya jika dia memiliki ilmu dan ketakwaan.” Secara garis besar ilmu melambangkan kehidupan dunia dan ketakwaan melambangkan kehidupan akhirat.

Bagaimana dengan kita? Seberapa besar perhatian kita terhadap kehidupan dunia?Seberapa banyak waktu kita untuk menyapaNya?

Kebahagiaan hidup seseorang tidak dapat diukur dengan kekayaannya. Terlalu banyak orang kecil yang hidup dengan bahagia bukan karena mereka punya segalanya, tapi karena mereka mensyukuri apa yang diberikanNya.

Bersyukurlah, Maka Allah akan sejahterakan kehidupan duniamu.

Bersyukurlah, Kehidupan akhirat yang kekal akan ada di genggamanmu.