Shakaro.or.id- Kesuksesan sebuah bangunan organisasi dimulai dari komunikasi. Apapun bentuk organisasinya, sekuat dan sehebat apapun orang-orang di dalamnya akan sia-sia tanpa menjalin komunikasi yang efektif. Organisasi yang dibangun, bisa runtuh kapan saja jika setengah hati membangun komunikasi dalam organisasi.

Tanpa mengurangi rasa hormat atas peran-peran yang lainnya, komunikasi menjadi kunci pertama mengharmonisasikan seluruh aspek organisasi. Dengan komunikasi yang efektif, setiap titik masalah akan ketemu pola solusinya, bahkan setiap langkah yang ditempuh akan berjalan berdampingan mesra.

Bagaimana tidak? Dalam sebuah organisasi dengan dukungan sumber manusia yang berpengalaman puluhan tahun, dana yang tidak terbatas, teknologi yang terkini hingga kepercayaan publik yang tinggi. Bisa runtuh sebelum dalam waktu cepat.

Peran Public Relation sebagai jembatan komunikasi internal dan ekternal masih dianggap sebatas ban serep belaka. Lebih banyak menyerap tenaga dan daya pikirnya sebagai seorang copywriter semata. Saking mahalnya komunikasi, informasi penting dan genting hanya diterima lewat obrolan dengan para staff lintas divisi di warung kopi.

Memang, pengalaman sebagai jurnalis tidak menjamin pemahaman menyeluruh mengenai organisasi. Butuh waktu yang cukup lama untuk mendapat kepercayaan dari ring satu organisasi. Apalagi statusnya anak baru yang baru bergabung bersama para senior dengan jam terbang yang lebih tinggi.

Supaya tidak asal saying what I know, belajar secara mandiri dengan teman seprofesi lintas organisasi salah satu cara yang harus ditempuh. Selain itu, mempelajari hulu-hilirnya organisasi tidak terlupakan agar setiap kata dan konten yang dikomunikasikan benar-benar diketahui apalagi saat krisis manajemen terjadi.

Sebagai insan PR baru dalam organisasi di bidang yang juga baru, menjadi tantangan yang sangat seru. Sayang, belum optimal menjelajahi kemampuan diri, organisasi yang menjadi tumpuan banyak orang itu memutuskan gulung tikar.

Kesempatan belajar, mengeksplorasi kemampuan diri hingga aktualisasi diri seperti debu yang tertiup angin, lenyap seketika. Ketika pengumuman resmi datang dari perwakilan organisasi. Kepada para karyawan, tentunya termasuk insan PR baru di dalamnya harap-harap cemas tentang masa depan organisasi yang sangat prospektif di masa depan.

Memang, sebelum pengumuman itu datang, beberapa bulan telah terjadi gesekan yang cukup panas dalam tubuh organisasi. Sebuah titik noda yang dianggap sepele itu akhirnya merubah warna baju organisasi. Perlahan, reputasi dan nama baik organisasi berbalik arah. Umpatan, cemoohan hingga kutukan atas ketidakpuasan dari publik bermunculan diberbagai kanal.

Mungkin, ungkapan ketidakpuasan dan kekecewaan tersebut terus dilontarkan sepanjang waktu, para mu’aqibat yang senantiasa menjaga manusia sepanjang masa di samping kiri dan kanannya tidak tega. Melaporkan sebuah tindakan yang dianggap kezoliman itu kepada Tuhan. Dengan berbagai pertimbangan, Tuhanpun mengizinkan untuk mengakhiri waktu organisasi yang baru masuk usia batita.

Sebagai insan yang terlanjur masuk dalam bidang komunikasi, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan publik. Nyatanya tidak merubah kondisi, sebab aspek utama yang menjadi jantung organisasi tidak kunjung diperbaiki. Lama kelamaan setiap kata dan ucapan yang dijanjikan hanya lewat begitu saja. Seperti rasa manis yang overdosis. Enek rasanya.

Dalam kondisi seperti itu, insan PR yang sejatinya punya peran menyiram api masalah tidak bisa berbuat banyak. Berbagai cara telah ditempuh untuk meminimalisir masalah, tetap menjaga wibawa organisasi di mata karyawannya sendiri yang sudah terlanjur kesal dengan tumpukan masalah. Namun, yang terjadi seperti bom waktu yang tinggal menunggu waktu ledakannya saja.

Sebelum masa ledakan itu tiba, seorang praktisi komunikasi idealnya mencari berbagai solusi bersama manajemen organisasi, bukannya menggantungkan harapan yang ternyata palsu. Yang berdampak pada ratusan karyawan yang sudah menggantungkan hidupnya dalam organisasi. Terutama dilapis bawah yang selama ini loyal berkontribusi membangun organisasi.

Namun sayang, sejak awal peran PR seolah masih dipandang sebelah mata di organisasi ini oleh beberapa pihak. Meskipun secara nonformal, pimpinan tinggi organisasi sudah memberikan amanah sepenuhnya sebagai juru bicara organisasi dalam setiap kondisi.

Dalam hal ini, ada kekecawaan dan penyesalan yang dalam tidak mampu membantu maksimal menyelesaikan persoalan komunikasi yang menjadi kunci dari tumpukan masalah yang terjadi dalam organisasi. Sebuah pengalaman dan pembelajaran yang tidak pernah terlupakan.

“Makanya, kalau punya insan PR dalam organisasi itu harus diberdayakan, jangan setengah hati kalau ingin bangun komunikasi,” kira-kira begitu key message nya.

 

 

Leave a Comment