Olah berita. Foto Dokumentasi Pribadi

Peningkatan Minat Membaca

Perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi dewasa ini sering memabukan manusia. Akses yang mudah dan nyaman seoalah menenggelamkan kita dalam lautan informasi yang bertebaran di layar ponsel kita.

Sebagian beranggapan, perkembangan tersebut yang ditandai dengan revolusi industri jilid IV atau yang biasa digaungkan dengan istilah revolusi digital. Dapat melumpuhkan budaya membaca, karena faktanya banyak industri media cetak terpaksa pindah ke ranah digital. Buku-buku pun mulai bertebaran dalam format digital. Termasuk kitab suci pun hadir dalam format digital.

Namun, dalam pandangan hemat saya, era digital saat ini menjadi stimulus manusia untuk gemar membaca. Menunggu bus, berdiri di dalam kereta, naik ojek daring sampai makan pun semua melakukan hal yang sama. Membaca.

Di kampung saya dulu, jika ingin membaca harus datang ke perpustakaan sekolah, pergi ke toko buku dan paling mudah adalah meminjam buku ke teman. Karena waktu itu, dengan segala keterbatasan yang ada sangat mustahil untuk membaca (buku).

Tetapi sekarang, akses membaca bisa dari mana saja dan kapan saja dan tidak perlu repot mencari tempat duduk yang nyaman sambil minum kopi dan kentang goreng. Sambil jongkok di toilet atau berjalan di trotoarpun semua bisa membaca.

Pertanyaannya, bacaan seperti apa yang perlu dan layak untuk dikonsumsi? Ibarat makanan, apakah menu yang disajikan itu bergizi dan layak untuk dicerna dalam tubuh? Atau cukup beranggapan, makanan apa saja yang penting enak dimakan. Terserah kandungannya yang penting kemasannya menarik dan eye catching.

Jika itu yang menjadi landasan, wajar saja jika sekarang kita banyak mengeluh beredar berita bodong alias Hoax. Selain menyesali maraknya informasi hoax, kita juga patut mempertanyakan dalam diri sampai kapankah kita akan menjadi konsumen informasi?

Jika belum move on dari konsumen informasi menjadi produsen informasi. Atau minimal menjadi pemilah informasi. Mana yang layak dikonsumsi dan mana yang perlu dihindari, kalua tidak bisa menghindari, setidaknya cukup numpang permisi tanpa ada rasa dongkol dalam hati. Maka, nikmati sajalah sajian informasi sampah tanpa perlu banyak keluh kesah.

Sebaliknya, jika engkau menghendaki perubahan, maka jadilah wartawan. Quote unqoute, Seseorang pernah berkata bahwa Wartawan menulis dengan hati, kita sebaiknya berbicara harus hati-hati. Mungkin itu ada benarnya. Apalagi diera banjir informasi saat ini, rambut ketiak Julia Roberts belum dicukur saja bisa jadi bahan berita.

Dan tidak perlu juga memisahkan mana wartawan official dan mana wartawan bodrex. Hemat saya, setiap manusia sejatinya punya kecenderungan menjadi wartawan. Seperti yang kita alami sehari-hari, seorang dua teman datang kepada kita dan bercerita usai melihat sebuah kecelakaan di jalan. Ada yang bilang si korban begini, ada yang hanya menceritakan jenis motornya saja dan sebagainya.

Bukankah itu juga bagian dari angel pemberitaan yang juga dilakukan oleh wartawan?

Sambungannya di sini

Leave a Comment