Kafir, Kufur, Bersyukur

Setiap manusia punya potensi yang sama untuk kufur nikmat. Pelaku kufur disebut dengan Kafir. Diambil dari asal katanya kafaro-yakfuru-kufrun (kufur)-kafirun (kafir). Apa itu Kafir? Saat kita mentadabburi ayat-ayat Al Quran, terutama pada surat Ibrahim ayat 7 dan An Naml ayat 40 ada dua kata yang selalu bersandingan. Kufur dan syukur. Di surat Ibrahim, Allah menegaskan

“Kalau engkau bersyukur atas nikmat yang Aku berikan pasti akan aku tambah kenikmatan pada mu. Tapi jika engkau kufur atas apa yang Aku beri, ingatlah azab Ku sangat pedih,”

Senada dengan surat Ibrahim:7, di surat An Naml:40 Allah mengingatkan dan mengajarkan kepada manusia untuk mencontoh Nabi Sulaiman yang kaya raya, penguasa bangsa jin, hewan dan manusia. Saat berhasil memindahkan istana ratu Balqis dengan teknologi super canggih yang Jin Ifrit pun tidak sanggup melakukannya.

Beliau Nabi Sulaiman ‘alahis salam bukannya merasa angkuh, bangga diri bahkan memamerkan kemampuannya ke seluruh penduduk alam semesta. Apalagi sampai buat konfrensi pers seperti kebanyakan manusia saat ini yang baru selesai membangun gedung yang ramah lingkungan dan berkata.

“Saya sudah membangun gedung ini lebih cepat dari batas waktu yang ditargetkan,” ucapnya penuh bangga. Padahal yang membangun adalah kuli bangunan bukan dirinya.

Bukan, bukan ungkapan kebanggaan seperti itu yang Nabi Sulaiman ‘alaihis salam ucapkan. Yang beliau ungkapkan justru rasa rendah hati, tawadhu. Dan kalau tidak atas pertolongan Allah, maka perpindahan istana yang kecepatannya secepat kedipan mata, tidak akan mampu diwujudkannya.

Meski punya kemampuan yang dahsyat, putera Nabi Daun ‘alaihis salam itu, tidak tidak menunjukan arogansi dan kedigdayaannya. Bisa kita lihat dengan ucapannya seperti yang tertulis di surat An Naml:7.

“Ini adalah karunia dari Allah, untuk menguji kepadaku. Apakah aku bersyukur atau aku kufur. Siapa saja yang bersyukur, sesungguhnya dia mensyukuri atas kemampuan dirinya sendiri. Tapi jika kufur, ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya dan Maha Mulia,”

Jadi, siapa saja dari golongan dan agama apa saja saat mengingkari nikmat Allah dia termasuk golongan Kafirun (orang-orang Kafir). Yaitu golongan yang mengkufuri nikmat Allah.

Sedangkan yang senantiasa sadar bahwa segala hal yang ada dalam diri manusia merupakan nikmat dari Allah. Maka dia termasuk dalam golongan Syakirun (orang-orang yang bersyukur).

Foto: Dwi Kurniawan/TAPA

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *