“Sebisa mungkin hindari meremehkan symbol, kalau bisa jangan terlalu menggantung hidup pada symbol,”

Shakaro.or.id- Kira-kira begitu kesimpulan yang saya tarik terkait dengan kejadian pembakaran bendera bertulisan lahfaz ‘Laa Ila Ha Illa Allah” saat peringatan hari Santri 22 Oktober 2018 di kota Garut beberapa hari yang lalu. Dipenghujung bulan oktober 2018, pembahasan seputar kejadian tersebut masih terus bermunculan.

Dalam segala hal, tidak ada salahnya juga jika kita berpedoman bahwa “setiap kejadian selalu ada pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik sebagai bekal hidup yang lebih baik lagi”. Atas kejadian pembakaran bendera tersebut, setidaknya saya mengurai ada dua pelajaran penting untuk bekal kita melangkah ke depan.

Pertama: Simbolisasi. Jika kita masuk dalam dunia korporasi symbol itu sangat penting, untuk mengenalkan diri dan dikenal oleh publik, sebuah organisasi atau korporasi perlu menunjukan eksistensi dirinya melalui simbol. Setiap elemen warna, tata letak hingga posisi penempatan symbol atau istilah lain yang diperkenalkan adalah brand sangat diperhatikan. Symbol atau brand adalah wajah eksistensi, citra dan jati diri organisasi.

Kedua: Substansi. Berpikir dan berorientasi pada substansi itu kadang ada perlunya juga. Seringkali kita terjebak pada suatu kemasan tapi lupa akan isinya. Kadang kita lebih memilih pura-pura bahagia ketimbang menunjukan kondisi diri yang apa adanya. Demi citra diri, berlomba atas penilian subjektif orang lain, kita rela menjauh dari jati diri kita sendiri.

Jika merujuk pada pedoman simbolisasi, kejadian di Garut itu sangat menciderai banyak pihak. Kalimat “Laa Illa Ha Illa Allah” yang ditulis di atas bendera hitam tersebut adalah symbol kesetiaan dan kepatuhan kepada Allah Yang Maha Tunggal. Tidak ada Tuhan selain Allah, demikian arti kalimat berbahasa Arab tersebut. Lebih luas lagi, kalimat tersebut adalah prinsip hidup bagi orang mukmin akan siklus kehidupan yang sejati.

Dari perspektif substansi, apapun motif yang melatarbelakangi kejadian tersebut, kalimat Laa Ilaha Illa Allah yang sejati ada dalam sanubari dan pikiran setiap hambaNya. Pembuktian ucapan tersebut terekam dalam jejak langkah hidupnya. Misalnya tidak menuhankan jabatan dan harta benda. Lebih luas lagi jangkauannya tidak menuhankan simbol-simbol sekalipun itu simbol Tuhan.

Untuk memudahkan mengenali Allah, daya pikir kita membutuhkan simbol, namun Allah bukan simbol. Tan keno kinoyo ngopo isitilah jawanya, atau laisa kamislihi syaiun yang Allah kenalkan tentang diriNya lewat Al Quran. Yang bermakna kurang lebih Tuhan tidak dapat digambarkan dan tidak pula disimbolkan apalagi diwakilkan bentukNya dalam sebuah brand.

 

Managing Director di Bumi

Akar permasalahan yang terjadi menurut pendapat saya pribadi berangkat dari kekhawatiran akan kembangkitan ormas Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) yang secara hukum sudah dibubarkan oleh pemerintah. Meski sudah dilarang, namun ideologinya dianggap masih terus tumbuh subur di masyarakat. Sehingga segala bentuk simbol dan identitas yang berhubungan dengan ormas tersebut harus diamankan, termasuk jargon ‘Khilafah’ yang selama ini menjadi bahan dakwah HTI ikut dihindari. Dampaknya, kata ‘Khilafah’ mengalami menyusutan makna seperti kata jihad yang selalu dikonotasikan negatif oleh banyak masyarakat.

Seandainya kita mau mengkaji kembali makna ‘Khilafah’ maka akan ketemu benang merahnya bahwa kata tersebut masih satu rumpun dengan kata ‘Khalifah’. Khalifah adalah tugas utama manusia yang Allah perintahkan. Kurang lebih gambarannya, Allah itu adalah Pemilik Saham alam raya termasuk manusia. Sebagai penguasa saham di jagad raya, Allah punya wewenang untuk memberikan mandat kepada manusia semacam managing director atau CEO nya.

Tugas utamanya adalah mengelola isi bumi dengan adil dan bijaksana dan berbuat baik kepada sesama makhlukNya. Tidak berlebihan dalam segala sesuatu dan menjadi ummatan wasatan atau umat yang moderat yang berbijak pada keadilan sosial bagi seluruh manusia. Kurang lebih seperti itu gambaran makna Khalifah. Khalifah adalah pelaku atau yang menjalankan khilafah di muka bumi.

Tentunya, untuk menjalankan peran Khalifah ini setiap kita punya kapasitas dan kemampuannya masing-masing yang Tuhan berikan. Apapun peran dan wewenang yang kita miliki di dunia ini, usahakan dapat diterima dan disukai oleh Allah Sang Pemilik Saham utama manusia dan jagad raya. Bukankah selama ini, kita bekerja di kantor bertujuan untuk menyenangkan pemilik saham perusahaan? Nah, bisa kita bayangkan sendiri, kalau Pemilik Saham jagad raya dan manusia sudah senang dan bangga dengan ‘layanan’ kita di bumi Nya.

Saking baiknya Allah Sang Pemilik Saham bumi dan isinya, kita para Khalifahnya diberikan qlue dan buku panduan supaya dalam mengelola bumi dan hidup di atas tanahNya itu bisa selamat sampai masa bakti di bumi telah berakhir. Salah satu qlue tersebut adalah “Laa Ila Ha Illa Allah Muhammad Rosulullah” yang berarti “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”.

 

Foto: Pixabay.com

Leave a Comment