Shakaro.or.id- Terpilih sebagai ICON PR 2018 bagi saya suatu anugerah tersendiri yang semoga bisa menjadikan saya manusia yang semakin bersyukur atas segala nikmat dan kemudahan dalam menjalani peran hidup di dunia. Apalagi karir yang saya tekuni saat ini, bisa dibilang tidak ada hubungannya dengan jurusan yang saya pelajari di kampus.

Pertama kali menekuni bidang public relation pada akhir tahun 2016. Setelah menyelesaikan amanah sebagai jurnalis di Majalah SWA selama dua tahun, saya mendapat amanah baru menjadi Public Relation di perusahaan startup industri jasa pengirimanan. Pengalaman berkesan selama hampir dua tahun adalah ketika menangani crisis management dengan stakeholders ketika masa Harbolnas 2017.

Jika biasanya di perusahaan lain ada beberapa orang sebagai satu tim di bagian Public Relation, di tempat tersebut satu semester pertama saya hanya seorang diri. Suatu kenyataan yang harus saya nikmati dan jalani sendiri. Berdiskusi dengan berbagai para expert lintas industri menjadi satu solusi yang harus saya jalani. Belajar seputar public relation, corporate communication, marketing communication sampai urusan teknis seputar struktur organisasinya.

Ditempat tersebut saya mendapat pengalaman pertama menjadi seorang praktisi PR yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terpikirkan akan berada pada posisi ini, apalagi terpilih sebagai ICON PR 2018, sama sekali jauh dari bayangan dan target saya.

Singkat cerita, setelah membuat mencari solusi terbaik atas crisis terjadi bersama tim, mendengarkan berbagai komentar dari lintas departemen dan perusahaan. Akhirnya perlahan crisis tersebut mulai diatasi dengan baik. Namun, belum selesai satu masalah timbul masalah lain yang saya kira pangkal masalahnya karena komunikasi yang kurang efektif.

Puncaknya, pada 28 Februari 2018, perusahaan yang masih berusia bawah tiga tahun tersebut akhirnya tumbang. Informasi penutupan perusahaan tersebut baru diketahui secara resmi oleh karyawan satu minggu sebelumnya. Semua karyawan bingung dan bimbang akan kemana lagi setelah kejadian ini.

Kondisi inilah yang memacu saya untuk mengutarakan unek-unek dalam sebuah esay berjudul “Maaf, Belum Public Relatio Belum Dibutuhkan Disini,” Esai tersebut saya kirim ke redaksi Public Relation Indonesia, panitia sekaligus penyelanggara pemilihan ICON PR yang ketiga kalinya di Indonesia.

Pastinya ada banyak esai yang masuk ke email panitia penyeleksi, mungkin puluhan bisa jadi sampai ratusan esai dari para praktisi PR se Indonesia. Selang sekitar satu bulan setelah esai tersebut terkirim, pada tanggal 9 Oktober 2018, saya mendapat undangan mengikuti penjurian para finalis ICON PR 2018 di gedung Dewan Pers pada tanggal 11 Oktober 2018.

Beberapa hari sebelum mendapat undangan tersebut, saya sempat berpesan kepada istri supaya perayaan ulang tahun di tahun ini tidak perlu dirayakan. Tidak perlu membelikan kue, barang kesukaan saya atau produk simbolik ulang tahun lainnya.

“Sujud syukur dan muhasabah diri saja sudah cukup bun, biar saya nyadar diri dan semakin tambah bersyukur sama Allah,” pesan saya waktu itu.

Rupanya, istri tidak membelikan kue ulang tahun, tidak membelikan tas, sepatu dan barang-barang aksesoris kesukaan saya lainnya. Pada hari kamis, bertepatan dengan tanggal lahir saya 11 Oktober 2018 Allah izinkan saya untuk datang mengikuti penjurian ICON PR 2018.

Sebuah kesempatan berharga, pengalaman istimewa bisa berdiri di depan para juri yang jam terbangnya lebih jauh, pengalamannya lebih lama, pengetahuannya lebih jero seperti Pak Asmono Wikan, Founder & CEO PR Indonesia, Bu Nike Yosephine, Pemenang Icon PR 2016 dan Bu Janette Pinariya, Dekan LSPR.

Selama kurang lebih 15 menit sesi perkenalan dan tanya jawab yang berbobot dan penuh makna seputar perjalanan hidup saya dua tahun terakhir berkecimpung dalam dunia kehumasan. Bagi saya, ini adalah kado istimewa yang Allah hadirkan bertepatan di tanggal lahir saya.

Penyerahan penghargaan ICON PR 2018 di Sam Poo Kong Semarang (Foto: Freandy/PRIndonesia.co)

Satu bulan setelah penjurian tersebut, pada tanggal 9 Nopember 2018 semua peserta terpilih sebagai ICON PR 2018 menghadiri malam penganugerahan di Sam Po Kong Semarang. Meski sempat hujan dan beberapa agenda hiburan terpaksa ditiadakan, tapi tidak mengurangi suasana yang hangat dan akrab di puncak ajara Jambore Public Relation Indonesia (JAMPIRO) ke 4 tersebut.

Selain saya, ada sahabat-sahabat para praktisi PR lintas industri yang terpilih sebagai ICON PR 2018. Mereka adalah: Leidena Sekar Negari dari Dewan Perwakilan Rakyat, Akbar dari Kereta Commuter Indonesia, Anzil Firdausi Nuzula dari Perum Jamkrindo, Khairul Anwar dari Royal Ambarukmo, Imam Suryanto dari Kementerian Perdagangan RI, Eggie Nurmahabibi dari Sinergi Informatika Semen Indonesia, Erfina Ningsih Pasaribu dari Kementerian Pariwisata RI, Laibun Sobri dari Pocari Sweat dan Faisal Alfarokhi dari Petrokimia Gresik.

 

Jakarta, 16 Nopember 2018

Leave a Comment