Setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Ibarat dua kaki yang berjalan, kesulitan adalah kaki kirinya, dan kemudahan adalah kaki kanannya. Setiap langkah kaki kiri akan selalu diiringi dengan langkah kaki kanan. Keduanya selalu berjalan bersama.

Mencari Ilmu tak lepas dari yang namanya kesulitan. Bisa sulit memahami, sulit mendalami bahkan kesulitan untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mencari rezeki pun juga sama, bisa proposal usahanya tidak disepakati, karyanya dianggap sepele, bahkan jenjang karirnya tidak pernah berubah meski sudah berkarya untuk perusahaan dengan maksimal.

Semua kesulitan itu sejatinya adalah bagian dari proses untuk mendapatkan kemudahan. Jika kita cermati, saat kaki kanan akan melangkah menggantikan posisi kaki kiri, ada jeda waktunya. Dan itu hanya dibutuhkan kesabaran untuk sampai pada sebuah kemudahan.

Sayangnya, kita sering berputus asa dan menyerah dalam proses. Tidak menghargai sebuah proses, padahal sejak lahir di bumi, manusia terus berproses. Tidak serta merta langsung bisa berbicara, berjalan, makan dan bisa bernegosiasi dengan partner bisnisnya.

Karena tidak bersabar itu, sering kali kita menyeburkan diri dalam sebuah perilaku buruk/maksiat. Short cut untuk mendapat jenjang karir yang pasti dan tinggi, mendapat penghasilan besar dengan cara instans dan menghalalkan segala cara. Dan akhirnya menikmati segala proses maksiat dan menyampingkan proses yang baik.

Rasanya, tidak layak sebuah kesulitan yang digandengkan dengan kemudahan dari Allah untuk disematkan pada perilaku-perilaku buruk tadi. Maka, jika karir hanya sekedar urusan perut, dan kemaluan, lalu bertemu masalah, malu rasanya untuk menyebut diri ini sedang diuji oleh Tuhan.

Lalu, bagaimana jika dalam proses maksiat tadi mendapatkan sebuah kesulitan. Ternyata orang yang akan diajak bermaksiat menolak, ternyata bagian HRD tidak kooperatif pada sikap dan cara yang instans. Apakah kesulitan dalam merencanakan maupun melakukan maksiat tadi, termasuk kesulitan yang disertai dengan kemudahan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita sama-sama sepakati, bahwa maksiat itu hasil dari menyerahnya manusia akan godaan nafsunya sendiri maupun syaitan. Maksiat adalah putus asa dari proses dan tidak sabar untuk berproses. Yang namanya menyerah bukanlah sebuah kesulitan. lha wong tinggal nyerah.

Lalu apa yang dimaksud dengan kesulitan?

Allah sudah menjelaskan bahwa ”Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 72).

Jadi, karena langit, bumi dan gunung-gunung semua itu tidak siap menerima amanat dari Allah untuk menjadi representatifNya. Maka, dengan sombongnya manusia bilang siap untuk menjadi khalifah, siap untuk menjalankan amanat Tuhan untuk memakmurkan bumi.

Karena Allah Maha Tahu, manusia tidak akan mampu, maka Tuhan siapkan perangkat kemudahan dalam prosesnya menjadi khalifah, diberikan berbagai jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka bahkan Tuhan berikan kenikmatan yang berlipat-lipat.

Karena itu, jika  hanya sekadar memenuhi nafsu dalam berkarir, maka tidak ada yang perlu dikejar mati-matian. Tapi jika untuk menyelesaikan amanat dari Tuhan, maka lelah itu wajar.

Leave a Comment