Sukses Belum Tentu Berkah

 

berkah
ilustrasi

Sudah menjadi ketetapan seorang manusia apabila mendapat harta yang melimpah, mengira dirinya sedang dimuliakan oleh Tuhannya. Pada tahapan ini, manusia cenderung mencari kelapangan materi dan kepastian jenjang karir supaya deposito dan investasinya tetap bertambah.

Istilah yang sering kita jumpai adalah ‘mendapat berkah’. Apalagi saat bulan Ramadhan tiba, kata berkah sering kali dikonotasikan dengan berbagai keuntungan materi. Harta yang bertambah banyak dan berlipat-lipat, sambil mengingat-ingat sedekah dikeluarkan tempo hari.

Padahal, tidak hanya yang bersedekah, orang yang suka bermaksiat kepada Allah saja banyak yang mendapat harta lebih melimpah.

Namun, ketika hartanya berkurang, maupun dibuat dalam kondisi yang serba sangat pas-pasan, akan dengan mudah menuduh Tuhannya sedang menghinakan dirinya. Merasa Tuhan tidak adil, menganggap hidupnya paling menderita sedunia. Seolah musibah yang bertubi hanya terjadi pada dirinya.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan keberkahan? Banyak proyek? Untuk besar? Mencukupi kebutuhan? atau makin bertambah banyaknya tabungan?

Tidak salah dengan anggapan tersebut. Namun hal tersebut di atas juga bisa terdapat dalam harta yang haram sekali pun. Keberkahan sejati adalah ketika sebuah rezeki tidak sekedar mencukupi kebutuhan maupun bertambah banyak, namun membawa dampak kebaikan, atau kebaikan di dalam nya tidak hilang.

Ketika harta bertambah banyak, hingga keperluan yang identik dengan barang mewah dengan mudah kita beli, namun kebaikan yang ada pada diri kita berkurang, saat itulah kita harus mempertanyakan pada diri kita apakah harta ini berkah untuk kita?

Berkah sejatinya adalah menetapnya kebaikan dalam rezeki, pribadi maupun keluarga. Jangan hanya fokus pada

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *