
Tulisan sebelumnya Tanduran
Ada yang menjelaskan bahwa Makam Mbah Wali Tanduran sebenarnya bukan makam (kuburan), tetapi pasarean atau patilasan, bekas Pangeran Cakrabuana. Begitu juga yang disebut makam Pajajaran di bukit Sigabung, adalah pasarean tempat pangeran Cakrabuana menyepi. Sedangkan makam Pajajaran yang berada di Pacalan Kampung Sebelas adalah tempat tinggal Pangeran Cakrabuana. Konon kabarnya di wilayah Pacalan tersebut sering dijumpai harimau putih dari Pajajaran, makanya tempat tersebut sedikit agark ‘keramat’.
Cakrabuana sendiri adalah gelar dari seorang yang bernama Walangsungsang yang punya andil besar dalam mendirikan kerajaan Cirebon. Beliau adalah anak dari Sang Pamanahrasa (Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) dengan istri ke duanya Nyi Mas Subang Larang, putri dari Ki Gedeng Tapa. Subang Larang adalah Seorang muslimah, murid dari Syeikh Kuro atau Syekh Hasanuddin.
Syekh Kuro yang dikenal pula dengan nama Syekh Hasanuddin, memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Persahabatan Ki Gedeng Tapa dengan Syekh Kuro, menjadikan putrinya, Subang Larang belajar di Pesantren Syekh Kuro. Adapun kedudukan Ki Gedeng Tapa adalah sebagai Syahbandar di Cirebon. Menggantikan Ki Gedeng Sindangkasih setelah wafat. Ki Gedeng Tapa dikenal pula dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati.
Dalam Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari-CPCN karya Pangeran Arya Cirebon yang ditulis (1720) atas dasar Negarakerta Bumi, menuturkan bahwa Ki Gedeng Sinangkasih memiliki kewenangan yang besar. Tidak hanya sebagai Syahbandar di Cirebon semata. Ternyata juga memiliki kewenangan mengangkat menantunya, Raden Pamanah Rasa sebagai Maharaja Pakwan Pajajaran dengan gelar Sang Prabu Siliwangi.
Prasasti Tembaga Kebantenan menyebutkan bahwa Sri Baduga adalah Susuhunan di Pakuan Pajajaran, yang memerintah selama 39 tahun (1482 – 1521 M). Dari pernikahan dengan Subang Larang itu, lahir tiga anak. Yang pertama bernama Walangsungsang, kedua Nyi Rara Santang dan terakhir Raja Sangara.
Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari seperti dikutip oleh Agus Sunyoto dalam buku Atlas Wali Songo, disebutkan bahwa Nyi Rara Santang, adik Pangeran Walangsungsang yang setelah haji berganti nama menjadi Syarifah Muda’im adalah Ibu dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati. Adapun Walangsungsang setelah haji berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman.
Setelah ibunya wafat, di Pakuan tidak ada orang yang bisa dijadikan guru mereka. Tidak ada lagi penenang batin dan pembimbing yang memadai bagi mereka. Khususnya dalam bidang keagamaan. Rasa haus akan ilmu tersebut, Walangsungsang bersama adik-adiknya meminta izin secara baik-baik kepada ayahandanya, untuk pergi ke Kerajaan Singapura (Cirebon).
Walangsungsang yang berstatus Tohaan (Pangeran), juga adik-adiknya, merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai putera-puteri Maharaja. Ayah Walangsungsang, Sri Baduga Maharaja, ketika itu masih berstatus Prabu Anom, bahkan mertuanya (Prabu Susuktunggal) masih di bawah kekuasaan kakeknya, Sang Mahaprabu Niskala Wastu Kancana. Sri Baduga Maharaja atau Prabu Anom Jayadewata, sangat maklum atas keinginan ketiga anaknya itu. Dengan berat hati ia hanya mengijinkan Walangsungsang dan Rara Santang, sedangkan Rajasangara diminta untuk tetap tinggal di Pakuan.
Mulailah pengembaraan mereka (Walangsungsang dengan Rara Santang) ke wilayah Pakuan Pajajaran di wilayah timur. Dari beberapas situs yang ditemukan oleh para peneliti, ada kemungkinan besar perjalanan mereka itu juga ke dataran tinggi Dihyang (Dieng) yang saat itu masih dalam wilayah Pakuan Pajajaran sebelah timur atau Parahyangan Bang Wetan. Di sana Walangsungsang bertemu dengan Ki Danuwarsih seorang biksu di daerah dataran tinggi Dieng, yang sekarang masuk dalam wilayah kabupaten Banjarnegara.
Saat perantauan itulah, Walangsungsang dan adiknya kemungkinan melewati Wonosobo-Karangkobar-Kalibening dan menetap di desa Paninggaran. Sebuah desa yang saat ini menjadi pembatas antara kabupaten Banjarnegara dengan kabupaten Pekalongan di sebelah selatan.
Jadi, bisa jadi memang Mbah Wali Tanduran itu adalah nama lain dari Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana yang diberikan oleh masyakarat desa yang bernama Paninggaran saat beliau pergi ke wilayah Pakuan Pajajaran di wilayah timur (Dieng) untuk belajar perbandingan agama dengan Ki Danuwarsih seorang biksu Budha, anak dari biksu Ki Danusetra yang berasal dari Gunung Dihyang (dieng), kemudian menjadi pendeta di Keraton Galuh, ketika ibukota Kerajaan Galuh masih di Karang Kamulyan, Ciamis.
Dari runtutan cerita di atas, setidaknya ada dua kemungkinan yang saya simpulkan:
- Walangsungsang pergi ke arah Dieng dan menetap sebentar di Paninggaran.
- Walangsungsang pulang dari Dieng dan sebelum mendirikan kerajaan Islam di Cirebon, menetap dahulu di Paninggaran untuk beberapa saat.
Catatan kecil ini masih perlu pendalaman dan masukan dari berbagai pihak agar kelak bisa menjadi sebuah ilmu pengetahuan bagi generasi masa depan bangsa khususnya warga desa Paninggaran.
Jakarta, 5 Juni 2015



