
Kalau dengar kota Pekalogan, sudah pasti yang terlintas di benak setiap orang adalah batiknya. Memang, selain dijuluki sebagai kota yang Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapi dan Indah (SANTRI), Pekalongan juga sebagai salah satu centra produksi batik. Namun, saat seorang bertanya kembali “Pekalongannya mana mas?” lalu saya jawab, “Paninggaran,” sebagian mengernyitkan dahi dan sebagian lagi bilang “ooh wong gunung tooh,”.
Suatu ketika, teman-temanku dari berbagai kota lintas provinsi berkunjung ke rumahku di Paninggaran. Saat mereka memasuki gerbang Linggo Asri, dan melintasi jalanan yang dikelilingi ratusan pohon rindang di kanan-kiri jalan, tiba-tiba terlintas dalam pikiran mereka sebuah pertanyaan yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.
“Bagaimana ceritanya bisa ada desa di tengah-tengah gunung ini?” “Siapa yang pertama kali membuka jalur selatan antara Pekalongan dan Banjarnegara ini?” “Jika semua agama di desamu adalah Islam, lalu siapa yang pertama kali mengajarkan mereka cara baca AlQuran?”
“Sebelum Islam menyebar di desamu, apakah ada agama atau kepercayaan lain?” “Apakah Paninggaran itu dahulunya adalah bekas kerajaan?” “Atau tempat persembunyian saat zaman Belanda?” “Sejak kapan ada kehidupan di desa ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu sangat menggelitik, entah dari mana saya memulainya. Karena ada satu makam Mbah Wali Tanduran yang cukup berpengaruh dan setiap tahunnya diadakan haul yang sekarang sudah masuk Haul ke 30. Artinya sejak tahun 1985 yang lalu tradisi Haul tersebut baru dimulai, hal ini pula yang menjadi pertanyaan, “Kenapa baru tahun 1985 dimulai? Apakah ada sosok lain yang pernah di Haul-kan sebelum tahun tersebut?” Informasi dari salah satu tokoh Paninggaran bilang sebelum Mbah Wali Tanduran, ada sosok bernama Dzul Karim yang jika dirunut tahunnya beliau lahir di tahun 1600an yang pernah di Haul-kan terlebih dahulu.
Untuk mempermudah, maka saya akan memulai dari sebuah Maqom Mbah Wali Tanduran. Entah yang dimaksud itu adalah makam (kuburan) atau Maqom yang secara harfiah berarti tempat berdiri. Berasal dari kata Qooma-Yaqumu–Maqomun. Seperti penggunaan kata maqom Ibrahim di depan Ka’bah. Yang berarti tempat berdirinya Nabi Ibrahim, bukan kuburannya. Istilah lain dari maqom adalah petilasan atau tempat persinggahan. Atau memang disebut maqom lalu agar mudah diucapkan maka disebut dengan kata makam saja.
Dalam sebuah penelitian tentang bahasa Sunda dari Kampus Unpad yang dibukukan dalam karya Yoseph Iskandar yang artikelnya saya dapatkan dari seorang tokoh Paninggaran (Pak Slamet waktu itu) ada kemiripan nama Paninggaran dengan bahasa Sunda yang artinya adalah pemburu dalam bahasa Indonesia. Sebelum membaca penelitian itu, saya pribadi tidak tahu arti nama Paninggaran. Jika yang dihubungan dari kata Paninggaran (berburu) maka, para sesepuh dan tokoh masyarakat Paninggaran dahulunya adalah para pemburu.
Teman-teman Paninggaran seangkatanku atau yang lahir di atas tahun 1980an pasti masih ingat bagaimana serunya jika musim cengkeh tiba. Bunyi kentongan dari masjid menandakan sebuah hewan Celeng masuk ke desa kami dan para pawang siap sedia dengan tombak dan panah ‘sakti’nya untuk memburu dan membunuh Celeng yang suka merusak hasil bumi masyarakat desa Paninggaran.
Namun ada yang mengatakan Paninggarang itu berasal dari kata “menginggar-inggar” (penuh kegembiraan) ada pula yang bilang Paninggaran itu artinya Ngepen Naning Gagaran (banyak program dan rencana tapi selalu gagal, tidak pernah kesampaian). Dari sekian arti, selain arti berburu, mungkin diartikan dengan kondisi psikologi-sosial-agama masyarakat desa Paninggaran saat ini yang sukanya Ademnyar (ramai di pertama, sepi di ujungnya). Yang kira-kira bermaksud saat muncul hal baru semua ramai mengikuti dan berkontribusi, setelah berjalan sekian waktu ditinggal satu persatu.
Menurut cerita para sesebuh pula, Mbah Wali Tanduran adalah seorang pemburu handal dan juga sosok yang ahli menandur (menanam) maka setelah beliau meninggal disebut dengan gelar Tanduran. Lalu, siapa nama asli Mbah Wali Tanduran ini? Mungkinkah Mbah Wali Tanduran adalah sosok pembuka jalur, pendidik, Da’i dan Ulama yang memngajarkan Alif-Ba-Ta kepada masyarakat desa yang bernama Paninggaran? Siapa murid beliau yang pertama, dan jika menikah, siapa saja keturuan yang masih ada?
Hingga saat ini, juru kunci dari cerita ini satu persatu telah Allah panggil ke ‘rumah’Nya. Salah satunya adalah Almarhum Kyai Mohammad sang penggagas perdana Haul Mbah Wali Tanduran di sebuah desa Paninggaran, yang masyarakatnya pandai nandur (menanam) kebaikan, nandur ilmu, nandur apa saja yang kelak akan tumbuh dan berkembang menjadi tanduran yang indah dan bermanfaat.
Bersambung ke part ll



